Derajat Kesehatan Ikan

Standar

I. Tujuan

  1. Untuk mengetahui ciri-ciri ikan sehat dan ikan yang tidak sehat
  2. Untuk membedakan antara ikan sehat dan ikan tidak sehat
  3. Untuk mengetahui beberapa metode yang digunakan untuk menguji kesehatan ikan

II. Alat dan Bahan

  1. Akuarium (8 buah)
  2. Air
  3. Ikan Lele, Ikan Nila, dan Ikan Gurame
  4. Lap
  5. Stopwatch

III. Cara Kerja

  1. Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan untuk praktikum
  2. Memasukkan Ikan Nila, Ikan Lele, dan Ikan Gurame ke dalam akuarium (masing-masing 1 ekor)
  3. Menghitung gerak operculum pada setiap interval waktu 15 menit (0’; 15’; 30’;45’; dan 60’) kemudian mencatat
  4. Melakukan uji Escape Reflex, Defensive Reflex, Tail Reflex, dan Ocular Reflex
  5. Membersihkan dan merapikan kembali peralatan yang digunakan

IV. Tinjauan Pustaka

Ikan yang sehat adalah ikan yang terbebas dari penyakit, perubahan fisik dan bahan-bahan kimia yang dapat merugikan manusia sebagai konsumen. Ciri-ciri ikan yang sehat adalah :

  • Organon-visus jernih dan cerah
  • Kulit sedikit berlendir
  • Gerak refleks baik
  • Gerakan lincah
  • Warna ikan cerah
  • Bagian ventral (perut) tubuh mendatar
  • Bagian cauda (ekor) horizontal atau terangkat ke atas
  • Pinna caudalis mengembang seperti kipas

Hanya dengan memperhatikan struktur insang ikan, kita sudah dapat menjelaskan hubungan antara ikan dan lingkungan sebagai tempat hidupnya, yaitu air. Air bukanlah hanya air saja, tetapi juga mengandung berbagai bahan kimia lain, apakah dalam bentuk yang larut atau dalam bentuk partikel. Kualitas air ini sangat penting, tidak hanya untuk ikan tetapi juga untuk semua kehidupan yang ada dalam perairan. (N. Zonneveld, E. A. Huisman, dan J. H. Boon.1991)

Kondisi  perairan  sangat  menentukan  kelimpahan  dan  penyebaran organisme  di  dalamnya,  akan  tetapi  setiap  organisme  memiliki  kebutuhan  dan preferensi lingkungan yang berbeda untuk hidup yang terkait dengan karakteristik lingkungannya.  Nikolsky  (1963)  menyatakan  bahwa  setidaknya  ada  tiga  alasan utama  bagi ikan  untuk memilih tempat hidup yaitu 1)  yang sesuai dengan kondisi tubuhnya,  2)  sumber  makanan yang banyak, 3) cocok  untuk  perkembangbiakan dan pemijahan.

Sifat perairan sebagai faktor utama yang mempengaruhi kesehatan dan kelangsungan hidup ikan adalah:

1. Sifat fisik air; meliputi suhu,kecerahan, cahaya, suara, dan berat jenis air.

2. Sifat kimia air; meliputi pH, kadar oksigen terlarut, dan karbon dioksida bebas.

3. Sifat biologi air; meliputi produsen, konsumen, dan adanya hewan pengurai yang    berupa plankton dan bakteri.

Ikan Gurame

Ikan gurame (Indonesian Goramy, Osphronemus goramy, Lac.) merupakan salah satu ikan asli perairan Indonesia. Menurut Roese and Pauly (2008) ikan ini berasal dari kepulauan Sumatera, Jawa dan Kalimantan sedangkan penyebarannya sudah meliputi Asia Tenggara, Cina dan India. Namun, hasil penelitian sumber daya ikan ini sudah banyak diterbitkan di Amerika dan Eropa. Ikan ini dikenal dengan berbagai nama daerah, diantaranya: gurame, gurami, gurameh atau kalui dan di masyarakat dikenal beberapa varietas, antara lain: porselin, soang, blue safir, batu, jepun, paris, bastar, jalak, jali, padang, galunggung dan lainnya.

Jenis ikan gurame yang dikenal masyarakat berdasarkan bentuknya ada 2 (dua) yaitu:

  1. Gurame angsa (soang): badan relatif panjang, sisik relatif lebar. Ukuran yang bisa dicapainya berat 8 kg, panjang 65 cm.
  2. Gurame Jepang: badan relatif pendek dan sisik lebih kecil. Ukuran yang dicapai hanya 45 cm dengan berat kurang dari 4,5 kg.

Meskipun ada sebagian orang yang tidak mengetahui dengan pasti tempat asal ikan gurame, namun dalam buku berjudul The Complete Aquarist’s Guide To Freshwater Tropical Fishes yang diedit john Gilbert menyatakan bahwa ikan gurame (Oshpronemus gouramy) merupakan ikan asli dari Kepulauan Sunda Besar. Ikan gurame disebutkan juga didistribusikan ke daerah Timur sebagai ikan lauk atau ikan konsumsi.

Di alam aslinya ikan gurame termasuk jenis ikan yang mendiami daerah yang tenang dan tergenang. Di perairan berarus deras seperti sungai jarang dijumpai ikan ini, sebaliknya di tempat-tempat tergenang seperti rawa, situ, waduk, dan danau sering dijumpai ikan ini. Akan halnya kebiasaan hidupnya yang lebih menyukai daerah tenang, bebas arus ini bisa dengan mudah dibuktikan di kolaam-kolam peliharaan. Mereka menyukai kolam yang tidak banyak mengalami pergantian air dan akan tumbuh cepat pada kolam dengan kondisi seperti itu. Dari gerakannya pun kita segera tahu, kareena mereka lebih menyukai bergerak naik turun (daripada berenang horizontal), hal yang tidak mungkin dilakukan pada sungai yang berarus deras.(Heru Susanto. 1991)

Klasifikasi Ikan Gurame:

Kingdom          : Animalia

Filum                : Chordata

Kelas               : Pisces

Ordo                : Anabantoidei

Sub ordo          : Labirinthici

Famili               : Anabantidae

Genus               : Oshpronemus

Spesies : Oshpronemus gouramy

Ikan Lele

Ikan lele adalah sejenis ikan yang hidup di air tawar. Lele mudah dikenali karena tubuhnya yang licin, agak pipih memanjang, serta memiliki “kumis” yang panjang, yang mencuat dari sekitar bagian mulutnya. Lele secara ilmiah terdiri dari banyak spesies. Tidak mengherankan pula apabila lele di Nusantara mempunyai banyak nama daerah, antara lain: ikan kalang (Sumatra Barat), ikan maut (Gayo dan Aceh), ikan pintet (Kalimantan Selatan), ikan keling (Makassar), ikan cepi (Sulawesi Selatan), ikan lele atau lindi (Jawa Tengah) atau ikan keli (Malaysia). Sedangkan nama ilmiah ikan lele adalah Clarias, berasal dari bahasa Yunani chlaros, yang berarti ‘lincah’, ‘kuat’, merujuk pada kemampuannya untuk tetap hidup dan bergerak di luar air.

Ikan-ikan marga Clarias dikenali dari tubuhnya yang licin memanjang tak bersisik, dengan sirip punggung dan sirip anus yang juga panjang, yang terkadang menyatu dengan sirip ekor menjadikannya nampak seperti sidat yang pendek. Kepalanya keras menulang di bagian atas, dengan mata yang kecil dan mulut lebar yang terletak di ujung moncong dilengkapi dengan empat pasang sungut peraba (barbels) yang amat berguna untuk bergerak di air yang gelap. Lele juga memiliki alat pernafasan tambahan berupa modifikasi dari busur insangnya. Terdapat sepasang patil, yakni duri tulang yang tajam pada sirip-sirip dadanya. Ikan lele bersifat nokturnal, yaitu aktif bergerak mencari makanan pada malam hari. Pada siang hari ikan lele berdiam diri dan berlindung di tempat-tempat gelap. Di alam ikan lele memijah pada musim penghujan.

Klasifikasi Ikan Lele:

Kingdom          : Animalia

Filum                : Chordata

Sub filum          : Vertebrata

Kelas               : Pisces

Sub kelas         : Actinoptergii

Ordo                : Ostariophysi

Sub ordo          : Siluroidea

Famili               : Claridae

Genus               : Clarias

Spesies : Clarias sp.

Ikan Nila

Ikan nila adalah sejenis ikan konsumsi air tawar. Ikan ini diintroduksi dari Afrika pada tahun 1969, dan kini menjadi ikan peliharaan yang populer di kolam-kolam air tawar dan di beberapa waduk di Indonesia. Nama ilmiahnya adalah Oreochromis niloticus, dan dalam bahasa Inggris dikenal sebagai Nile Tilapia. Ikan nila merupakan pemakan segala (omnivora), pemakan plankton, sampai pemakan aneka tumbuhan, sehingga ikan ini dapat dimanfaatkan sebagai pengendali gulma air.

Klasifikasi Ikan Nila:

Kingdom          : Animalia

Filum                : Chordata

Kelas               : Osteichthyes

Sub kelas         : Acanthoptarigii

Ordo                : Pacomorphi

Sub ordo          : Parcoidea

Famili               : Cichlidan

Genus               : Oreochromis

Spesies : Oreochromis niloticus

V. Pembahasan

Uji Gerakan Operculum

Berdasarkan grafik GO vs S, dapat diketahui bahwa Gerakan Operculum pada ikan nila, ikan lele, dan ikan gurame jumlahnya tidak stabil yaitu terjadi naik turun. Diketahui juga bahwa Gerakan Operculum pada ikan nila lebih banyak daripada ikan lele dan ikan gurame. Hal ini disebabkan karena ikan nila lebih banyak bergerak daripada ikan lele dan ikan gurame, sehingga lebih sering bernafas karena lebih banyak membutuhkan oksigen terlarut. Sedangkan ikan lele dan ikan gurame lebih senang berdiam diri didasar perairan.

Uji Escape Reflex

Pada Uji Escape Reflex yang dilakukan pada ikan lele, ikan nila, dan ikan gurame, diketahui bahwa ikan nila lebih baik Escape Reflexnya daripada ikan lele dan ikan gurame. Hal ini mungkin terjadi karena pada ikan lele dan ikan gurame mengalami stress akibat perlakuan ketika dipindahkan dari ember ke dalam akuarium, selain itu juga karena ikan lele dan ikan gurame lebih senang berdiam diri didasar perairan.

Uji Defensive Reflex

Pada Uji Defensive Reflex yang dilakukan pada ikan lele, ikan nila, dan ikan gurame, diketahui bahwa secara umum Defensive Reflex  ikan nila, ikan lele dan ikan gurame pada menit jumlahnya stabil. Akan tetapi Defensive Reflex sampai menit ke 60 pada ikan lele lebih baik daripada ikan nila dan ikan gurame. Hal ini terjadi karena ketahanan tubuh pada ikan lele  lebih baik daripada ikan nila dan ikan gurame. Tetapi di menit-menit awal Defensive Reflex  ikan nila dan ikan gurame juga baik.

2.4 Uji Tail Reflex

Pada Uji Tail Reflex yang dilakukan pada ikan lele, ikan nila, dan ikan gurame, diketahui bahwa Tail Reflex ikan lele, ikan nila dan ikan gurame stabil. Akan tetapi Tail Reflex pada ikan gurame dan ikan nila lebih baik daripada ikan lele. Hal ini karena perbedaan jenis ekor pada ikan lele, yaitu pada ikan lele ekornya sangat kecil dan sulit dikembangkan seperti kipas, Selain itu juga karena tubuh ikan lele sangat lemas sehingga sulit untuk mengangkat ekornya.

Uji Ocular Reflex

Pada Uji Ocular Reflex yang dilakukan pada ikan lele, ikan nila, dan ikan gurame, diketahui bahwa Ocular Reflex ikan lele, ikan nila, dan ikan gurame dari menit 0-60 mengalami penurunan atau tidak stabil, hal ini terjadi karena penurunan daya tahan ikan tersebut.

Suhu Awal dan Akhir

Pada awal praktikum, suhu awal air pada akuarium adalah 29 °C, sedangkan suhu akhirnya adalah 30 °C. Terjadinya perbedaan antara suhu awal  dan suhu akhir karena akibat perlakuan menguji ikan selama praktikum dari menit 0-60, sehingga menyebabkan sahu air akuarium mengalami kenaikkan pengaruh dari keadaan ikan tersebut yang daya tahannya semakin menurun.

VI. Kesimpulan

Untuk mengetahui dan membedakan antara ikan yang sehat dan ikan yang tidak sehat, maka ikan harus di uji dengan beberapa metode antara lain dengan metode Escape Reflex, Defensive Reflex, Tail Reflex, dan Ocular Reflex. Selain itu dengan dilihat berdasarkan ciri-ciri yang terdapat pada ikan tersebut. Berdasarkan pengujian dengan beberapa metode yang digunakan dan berdasarkan ciri-ciri tersebut, maka dapat diketahui atau disimpulkan pada hasil pengamatan praktikum bahwa yang termasuk ikan sehat adalah: Ikan Lele A, Ikan Nila A, Ikan Nila B, Ikan Gurame A, dan Ikan Gurame B. Sedangkan yang termasuk ikan yang tidak sehat adalah: Ikan Lele B.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s