ISU GENDER

Standar
  • Pengertian Gender

Gender merupakan kajian tentang tingkah laku perempuan dan hubungan sosial antara laki-laki dan perempuan. Gender berbeda dari seks atau jenis kelamin laki-laki dan perempuan yang bersifat biologis. Ini disebabkan yang dianggap maskulin dalam satu kebudayaan bisa dianggap sebagai feminim dalam budaya lain. Dengan kata lain, ciri maskulin atau feminim itu tergantung dari konteks sosial-budaya bukan semata-mata pada perbedaan jenis kelamin. Termasuk dalam persoalan gender adalah pembagian peran antara laki-laki dan perempuan (di luar peran biologis yakni hamil dan menyusui pada perempuan serta membuahi pada laki-laki), serta kepribadian. Gender bukanlah kodrat ataupun ketentuan Tuhan. Oleh karena itu gender berkaitan dengan proses keyakinan bagaimana seharusnya laki-laki dan perempuan berperan dan bertindak sesuai dengan tata nilai yang terstruktur, ketentuan sosial dan budaya ditempat mereka berada. Dengan demikian gender dapat dikatakan pembedaan peran, fungsi, tanggung jawab antara perempuan dan laki-laki yang dibentuk/dikonstruksi oleh sosial budaya dan dapat berubah sesuai perkembangan zaman. Perbedaan gender dan jenis kelamin (seks) adalah gender: dapat berubah, dapat dipertukarkan, tergantung waktu, budaya setempat, dan bukan merupakan kodrat Tuhan, melainkan buatan manusia. Lain halnya dengan seks (jenis kelamin), seks tidak dapat berubah, tidak dapat dipertukarkan, berlaku sepanjang masa, berlaku dimana saja, di belahan dunia manapun, dan merupakan kodrat atau ciptaan Tuhan.

  • Peran Gender

Peran gender merupakan peran laki-laki dan perempuan yang dikaitkan dengan status, lingkungan, dan budaya. Laki-laki memiliki tugas mencari nafkah, memimpin rumah tangga, melakukan pekerjaan kasar, memperbaiki atap, menggali sumur, dll. Perempuan mengurus anak, membersihkan rumah, memasak, mencuci baju, dll. Peran laki-laki dan perempuan di atas adalah peran gender, yakni peran yang diharapkan dari seorang laki-laki dan perempuan karena budaya menghendaki demikian. Namun peran ini dapat berubah atau dipertukarkan pada lingkungan dan budaya yang berbeda. Oleh sebab budaya selalu berubah, demikian juga peran gender. Tahun 90-an, perempuan tidak ada yang boleh bekerja jadi sopir, saat ini mulai banyak sopir perempuan. Jaman dulu laki-laki tidak mengasuh anak dan tidak mencuci baju, saat ini laki-laki mengasuh anak dan mencuci baju. Boleh jadi, pada suatu saat nanti tidak akan ada lagi peran gender. Kepribadian. Masyarakat pada umumnya membedakan adanya sifat kepribadian tertentu yang dianggap khas milik perempuan dan sebagian yang lain khas miliki laki-laki. Sifat-sifat yang dianggap khas perempuan misalnya lemah lembut, bijaksana, cerewet, religius, peka terhadap perasaan orang lain, sangat memperhatikan penampilan, mudah menangis, tergantung atau kurang mandiri, dan memiliki kebutuhan rasa aman yang besar. Sifat-sifat yang khas laki-laki misalnya agresif, mandiri, kurang emosional, objektif, kurang peka terhadap perasaan orang lain, ambisius, dominan, logis, dan suka bersaing. Pertanyaannya, apakah hal tersebut benar?

Boleh jadi sifat-sifat yang khas itu memang benar. Kekhasan itu muncul karena sejak kecil masing-masing jenis kelamin memang telah dididik untuk selaras dengan sifat-sifat itu. Misalnya saja agresivitas. Sejak kecil laki-laki dididik untuk agresif, perkelahian anak laki-laki lebih dimaklumi. Permainan mereka berkisar pada persaingan dan peperangan. Sebaliknya anak perempuan dididik kurang agresif. Mereka dilarang melakukan permainan agresif. Permainan yang diberikan pun bukan permainan agresif. Maka kemudian menjadi wajar jika laki-laki lebih agresif ketimbang perempuan.

  • Bias Gender

Bias gender adalah adanya ketidakjelasan fokus bahasan pada gender, terlihat sebagai suatu bentuk yang terdistorsi pada suatu kasus yang menceritakan mengenai pria/ wanita. Dengan demikian, bahwa bias gender merupakan pandangan bahwa salah satu gender lebih interior/ rendah daripada gender yang lain.

Bentuk-bentuk Diskriminasi Gender

• Marginalisasi (peminggiran)

Peminggiran banyak terjadi dalam bidang ekonomi. Misalnya banyak perempuan hanya mendapatkan pekerjaan yang tidak terlalu bagus, baik dari segi gaji, jaminan kerja ataupun status dari pekerjaan yang didapatkan. Hal ini terjadi karena sangat sedikit perempuan yang mendapatkan peluang pendidikan. Peminggiran dapat terjadi di rumah, tempat kerja, masyarakat, bahkan oleh negara yang bersumber keyakinan, tradisi/kebiasaan, kebijakan pemerintah, maupun asumsi-asumsi ilmu pengetahuan (teknologi).

• Subordinasi

Subordinasi pada dasarnya adalah keyakinan bahwa salah satu jenis kelamin dianggap lebih penting atau lebih utama dibanding jenis kelamin lainnya. Sudah sejak dahulu ada pandangan yang menempatkan kedudukan dan peran perempuan lebih rendah dari laki-laki. Banyak kasus dalam tradisi, tafsiran ajaran agama maupun dalam aturan birokrasi yang meletakan kaum perempuan sebagai subordinasi dari kaum laki-laki. Kenyataan memperlihatkan bahwa masih ada nilai-nilai masyarakat yang membatasi ruang gerak terutama perempuan dalam kehidupan. Sebagai contoh apabila seorang isteri yang hendak mengikuti tugas belajar, atau hendak berpergian ke luar negeri harus mendapat izin suami, tatapi kalau suami yang akan pergi tidak perlu izin dari isteri.

• Pandangan stereotype

Setereotipe dimaksud adalah citra baku tentang individu atau kelompok yang tidak sesuai dengan kenyataan empiris yang ada. Pelabelan negatif secara umum selalu melahirkan ketidakadilan. Salah satu stereotipe yang berkembang berdasarkan pengertian gender, yakni terjadi terhadap salah satu jenis kelamin, (perempuan), Hal ini mengakibatkan terjadinya diskriminasi dan berbagai ketidakadilan yang merugikan kaum perempuan. Misalnya pandangan terhadap perempuan yang tugas dan fungsinya hanya melaksanakan pekerjaan yang berkaitan dengan pekerjaan domistik atau kerumahtanggaan. Hal ini tidak hanya terjadi dalam lingkup rumah tangga tetapi juga terjadi di tempat kerja dan masyaraklat, bahkan di tingkat pemerintah dan negara.Apabila seorang laki-laki marah, ia dianggap tegas, tetapi bila perempuan marah atau tersinggung dianggap emosional dan tidak dapat menahan diri. Standar nilai terhadap perilaku perempuan dan laki-laki berbeda, namun standar nilai tersebut banyak menghakimi dan merugikan perempuan. Label kaum perempuan sebagai “ibu rumah tangga” merugikan, jika hendak aktif dalam “kegiatan laki-laki” seperti berpolitik, bisnis atau birokrat. Sementara label laki-laki sebagai pencari nafkah utama, (breadwinner) mengakibatkan apa saja yang dihasilkan oleh perempuan dianggap sebagai sambilan atau tambahan dan cenderung tidak diperhitungkan.

• Kekerasan

Berbagai bentuk tidak kekerasan terhadap perempuan sebagai akibat perbedaan, muncul dalam bebagai bentuk. Kata kekerasan merupakan terjemahkan dari violence, artinya suatu serangan terhadap fisik maupun integritas mental psikologis seseorang. Oleh karena itu kekerasan tidak hanya menyangkut serangan fisik saja seperti perkosaan, pemukulan dan penyiksaan, tetapi juga yang bersifat non fisik, seperpti pelecehan seksual sehingga secara emosional terusik. Pelaku kekerasan bermacam-macam, ada yang bersifat individu, baik di dalam rumah tangga sendiri maupun di tempat umum, ada juga di dalam masyarakat itu sendiri. Pelaku bisa saja suami/ayah, keponakan, sepupu, paman, mertua, anak laki-laki, tetangga, majikan.Violence (kekerasan), yaitu serangan fisik dan psikis. Perempuan, pihak paling rentan mengalami kekerasan, dimana hal itu terkait dengan marginalisasi, subordinasi maupun stereotip diatas. Perkosaan, pelecehan seksual atau perampokan contoh kekerasan paling banyak dialami perempuan.

• Beban Ganda

Bentuk lain dari diskriminasi dan ketidakadilan gender adalah beban ganda yang harus dilakukan oleh salah satu jenis kelamin tertentu secara berlebihan. Dalam suatu rumah tangga pada umumnya beberapa jenis kegiatan dilakukan laki-laki, dan beberapa dilakukan oleh perempuan. Berbagai observasi, menunjukkan perempuan mengerjakan hampir 90% dari pekerjaan dalam rumah tangga. Sehingga bagi mereka yang bekerja, selain bekerja di tempat kerja juga masih harus mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Dalam proses pembangunan, kenyataannya perempuan sebagai sumber daya insani masih mendapat pembedan perlakuan, terutama bila bergerak dalam bidang publik. Dirasakan banyak ketimpangan, meskipun ada juga ketimpangan yang dialami kaum laki-laki di satu sisi.

Kesetaraan dan Keadilan Gender

Kesetaraan gender berarti kesamaan kondisi bagi laki-laki dan perempuan untuk memperoleh kesempatan serta hak-haknya sebagai manusia, agar mampu berperan dan berpartisipasi dalam kegiatan politik, hukum, ekonomi, sosial budaya, pendidikan dan pertahanan dan keamanan nasional (hankamnas), serta kesamaan dalam menikmati hasil pembangunan tersebut. Kesetaraan gender juga meliputi penghapusan diskriminasi dan ketidakadilan struktural, baik terhadap laki-laki maupun perempuan. Sedangkan keadilan gender adalah suatu proses dan perlakuan adil terhadap perempuan dan laki-laki. Dengan keadilan gender berarti tidak ada pembakuan peran, beban ganda, subordinasi, marginalisasi dan kekerasan terhadap perempuan maupun laki-laki. Terwujudnya kesetaran dan keadilan gender ditandai dengan tidak adanya diskriminasi antara perempuan dan laki-laki, dan dengan demikian mereka memiliki akses, kesempatan berpartisipasi, dan kontrol atas pembangunan serta memperoleh manfaat yang setara dan adil dari pembangunan.

  • Isu Gander

Banyak sekali isu gender yang ada di dunia ini, salah satunya adalah kata-kata ”Bapak ke kantor, Ibu memasak”, “Bapak ke sawah, Ibu ke pasar” dan sebagainya. Itulah kata yang seringkali menghiasi buku-buku pelajaran siswa sekolah dasar atau menengah. Celakanya lagi, entah disadari atau tidak, guru sebagai lini terdepan pengajaran di kelas langsung “menelan mentah-mentah” kata tersebut. Dengan pengajaran seperti itu, secara tidak langsung telah memberikan sebuah pembatasan yang jelas terhadap posisi pria dan wanita di kehidupan nyata. Titik akhirnya, ada sebuah hasil negatif yang diciptakan, yaitu masalah gender.

Contoh lain adalah cerita pada sebuah film yaitu Pertaruhan (At Stake), sebuah film dokumenter keroyokan karya lima sutradara. Film yang dibuat oleh Kalyana Shira Foundation bertutur mengenai kisah beberapa perempuan yang bisa kita temui dalam hidup kita sehari-hari. Pertaruhan merupakan film dokumenter yang terdiri atas empat cerita dengan kisah yang berdiri sendiri, namun ada benang merah yang menghubungkan keempat film tersebut. Benang merahnya adalah isu-isu seputar perempuan khususnya otonomi perempuan terhadap tubuhnya sendiri. Keempat kisah berbeda dalam film Pertaruhan dengan nadanya sendiri menyuarakan pertanyaan yang sama.

Salah satu kisah bertutur mengenai sunat perempuan yang lazim ditemukan di Indonesia dan beberapa masyarakat lain di dunia. Padahal beberapa kalangan menilai sunat (khitan) perempuan belum jelas dasarnya hingga sekarang. Dari segi agama, masih menjadi perdebatan akibat dianggap tidak adanya dalil yang kuat. Agama Islam mewajibkan khitan hanya pada anak laki-laki. Pada kenyataannya dari segi kesehatan, sunat perempuan dinyatakan tidak bermanfaat. Bahkan Departemen Kesehatan di berbagai negara sudah melarang praktek ini. Begitu pun, di beberapa tempat di Indonesia hal ini masih ditemui. Cerita “Untuk Apa?” menyajikan potret sunat perempuan di Indonesia yang terutama didasari oleh anggapan negatif kaum patrialkal mengenai perempuan yang tidak bisa mengontrol hasratnya. Berbasis pada stereotipe dan kebiasaan semata, dan bukan pada fakta kesehatan yang lebih nyata.

Maka hukum “wajibnya” sunat perempuan menjadi suatu kesalahpahaman yang turun temurun. Mengakar dalam kebudayaan disertai dengan sterotipe negatif mengenai perempuan, yang dalam beberapa kebudayaan justru disanjung. Ketidakkuasaan untuk menolak kebiasaan ini menyisakan tangis bayi perempuan yang membekali trauma pada sebagian dari mereka. Cerita yang mengeksplorasi sunat perempuan dari aspek agama, budaya, isu jender hingga medis ini menyisakan pertanyaan, sunat perempuan ini untuk apa/untuk siapa?

Ketiga cerita lainnya menampilkan kisah yang terbilang getir, namun sesekali diwarnai sisi komedi (atau ironi?). Cerita “Mengusahakan Cinta” menampilkan kisah dua orang TKW di Hongkong yang bertahan terhadap stereotipe pihak lain terhadap pilihan hidup mereka. Cerita “Nona Nyonya” mengisahkan persinggungan antara kebutuhan perempuan atas akses terhadap pemeriksaan kesehatan reproduksi dan penghakiman masyarakat atas perempuan lajang. Cerita “Ragat’e Anak” mengisahkan hidup sehari-hari dua perempuan pemecah batu di Tulungagung yang menjajakan tubuhnya, dengan harga kurang dari sepertiga harga kopi Starbuck.

Isu utama yang diangkat dari keempat film ini adalah bahwa di masyarakat, masih ada yang sebagian dari kaum perempuan yang belum memiliki hak penuh atas tubuhnya sendiri. Bahwa pengambilan keputusan atas perlakuan terhadap tubuh perempuan masih belum menjadi otonomi si perempuan, namun masih dibatasi dan diatur oleh beragam sterotipe dan norma yang mengelilinginya. Film ini telah mengemas kisah sehari-hari menjadi cerita yang mengguncang emosi. Cara kita memandang sesuatu pun tak akan sama lagi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s